Skip to content
Menu
Kisah Kecil dari Palembang
  • Masa Lalu
  • Masa Kini
  • Gagasan
Kisah Kecil dari Palembang

5 Hari 5 Malam 5 Tempat, Mengenang Perang Besar di Palembang

Posted on 05/05/201623/07/2022

1 Januari 1947 adalah hari pertama perang semesta yang melibatkan seluruh warga Palembang melawan pasukan pendudukan Belanda, bahkan bukan hanya warga kota Palembang, perang ini juga mengundang ratusan pejuang dan tentara dari bagian lain sumatera Selatan, seperti Lahat, Prabumulih, bahkan dari kota Lampung.
Berikut ini adalah 5 Tempat yang harus anda kunjungi karena inilah tempat dimana kejadian penting selama perang berlangsung.

Bundaran Air Mancur
Lokasinya berada di dekat mesjid Agung Palembang, saat perang berlangsung kolam air Mancur ini belum ada, tempatnya dahulu hanya berupa jalan lebar yang di beberapa bagiannya dijadikan pos jaga oleh TRI (Tentara Republik Indonesia) dan laskar-laskar rakyat. Pada tanggal 1 Januari 1947, beberapa tentara Belanda yang baru saja selesai merayakan pesta tahun baru mengemudikan jip dalam keadaan mabuk dan melaju keluar markas mereka di dalam Benteng Kuto Besak menuju ke arah Mesjid Agung, disana mereka mengeluarkan tembakan yang dibalas oleh anggota laskar yang sedang bertugas menjaga pos, ini lah awal dari perang selama 5 hari 5 malam di Palembang.

Pasar Cinde
1 km ke arah utara Mesjid Agung Palembang, terdapat pasar Cinde, pada masa perang 5 Hari 5 Malam, pasar Cinde masih berupa pasar kecil yang merupakan bagian dari Terminal angkutan luar kota, pasar yang lebih besar disitu adalah pasar Lingkis. Pada hari kedua pertempuran, pasukan Belanda dari Benteng Kuto Besak hendak menerobos kepungan pasukan TRI dan laskar atas Rumah Sakit Charitas (yang saat itu dijadikan markas pasukan elit Belanda), Belanda berhasil menerobos barikade di dekat mesjid Agung Palembang dan dekat IP sebelum akhirnya tertahan di pasar Lingkis, namun Belanda berhasil melalui hadangan TRI dan laskar dan sampai ke RS Charitas walaupun satu truk mereka terbakar dan beberapa tentara tewas.
Di hari berikutnya, pasukan Belanda dari Charitas keluar menaiki tank panser dan menyerang posisi pasukan TRI dan laskar di pasar Lingkis, lagi-lagi berusaha untuk menghancurkan posisi pengepungan, namun TRI dan laskar berhasil bertahan, dalam hujan peluru dari tank dan panser mereka bersembunyi di balik puluhan makam keluarga Sultan Palembang yang berada di dekat pasar Lingkis, perang yang terjadi sangat dekat sampai-sampai anggota laskar bisa menaiki panser dan melemparkan bom molotov. Pasukan Belanda akhirnya mundur, masuk kembali ke markas mereka di RS Charitas. Mereka gagal.

image

RS Charitas
Rumah sakit Charitas didirikan pada tanggal  9 Juli 1926 oleh Konggregasi Suster Santo Fransiskus Charitas Roosendaal dari Negeri Belanda, saat pasukan Belanda kembali masuk ke Palembang, mereka mengambil alih pengelolaan RS dan mengubahnya menjadi markas pasukan Gajah Merah yang merupakan pasukan komando Belanda yang disegani.
Selama perang 5 hari 5 malam, rumah sakit Charitas selalu dalam keadaan terkepung, pasukan bantuan TRI dari Prabumulih yang dipimpin oleh Mayor Dani Effendi secara khusus ditugasi untuk mengepung Charitas dibantu oleh pasukan TRI lain dan laskar-laskar. Pada hari keempat pasukan Belanda di RS Charitas telah kehabisan amunisi dan akhirnya mengibarkan bendera putih. Ini menjadi satu-satunya posisi pasukan Belanda yang mengibarkan bendera putih selama perang 5 hari 5 malam. Kemenangan besar bagi pasukan TRI dan laskar.

Bagus Kuning
Bagus Kuning adalah perumahan para pekerja perusahaan minyak yang diubah menjadi markas pasukan Belanda, pada hari ketiga, pasukan TRI dibantu dengan berbagai laskar melakukan serangan umum dan berhasil mengusir pasukan Belanda. Pasukan Belanda lari ke atas kapal mereka dan menuju ke tengah sungai Musi, menjauh dari jarak tembak senjata pasukan TRI.
Peristiwa ini adalah kemenangan yang sangat penting selama perang 5 hari 5 malam di Palembang, berita kemenangan ini menyebar ke semua pasukan yang sedang bertempur habis-habisan dibawah bombardier angkatan udara dan angkatan laut Belanda dan berhasil membangkitkan kembali semangat mereka.

Plaju
Pada tahun 1930, BPM yang merupakan anak perusahaan minyak asal Belanda, Shell, mendapat izin mendirikan kilang minyak di Plaju, membuat Plaju menjadi tempat yang penting dalam perang selama tahun 1930-1945 di Asia Tenggara, bukan hanya karena minyak adalah komoditas perdagangan yang penting namun juga karena minyak sangat diperlukan untuk menjalankan mesin perang seperti jet serbu dan tank panser.
Pada saat berlangsungnya perang 5 hari 5 malam di Palembang, Belanda telah memperkuat pertahanan mereka di sekitar kilang minyak dan perumahan karyawan BPM, sehingga membuat pasukan TRI dan laskar yang mengepung kesulitan untuk masuk. Komandan pasukan TRI yang mengepung Plaju lalu melaksanakan serbuan umum, Letnan Satu Abdullah memimpin sendiri pasukan gabungan TRI dan laskar, dia berada di garis terdepan pertempuran, menjadi contoh bagi para prajurit yang dia pimpin, serangan nampaknya akan berhasil menerobos garis pertahanan musuh sampai saat peluru sniper Belanda mengenai tubuh Letnan Satu Abdullah, tubuhnya terkapar saat hendak berlari maju memimpin pasukannya menyelinap di dekat gereja Plaju, tubuhnya jatuh di tempat terbuka, sehingga anak buahnya tidak bisa langsung menyelamatkan karena rentan ditembak pasukan Belanda. Setelah beberapa saat, dibawah tembakan perlindungan yang bertubi-tubi akhirnya jenazah letnan satu Abdullah berhasil diselamatkan, dia lalu dimakamkan di sekitar pertigaan simpang Kayu Agung, Plaju. Sebagai penghormatan atas aksi heroiknya, pangkat Letnan satu Abdullah dinaikkan setingkat menjadi Kapten dan namanya diabadikan sebagai nama jalan yang menuju ke kilang minyak Plaju.

image

Inilah 5 Tempat yang wajib dikunjungi bagi teman-teman yang ingin tahu mengenai sejarah pertempuran 5 hari 5 malam di Palembang.

Seru kan? Ayo kunjungi!

6 thoughts on “5 Hari 5 Malam 5 Tempat, Mengenang Perang Besar di Palembang”

  1. omnduut says:
    05/05/2016 at 08:13

    Pengen deh blusukan di Charitas, apolagi yang bangunan-bangunan tuonyo. Hmm, susah ye akses ke sano >.<

    Reply
    1. robbysnt says:
      05/05/2016 at 14:53

      Haha ayo, kita coba 😀

      Reply
    2. Deddy Huang says:
      07/05/2016 at 02:29

      Di Charitas ado bangunan tuo? sekarang charitas udah modern dan dingin kakak

      Reply
      1. robbysnt says:
        07/05/2016 at 02:30

        Gedung tuo yg atap genteng koh

        Reply
        1. Deddy Huang says:
          07/05/2016 at 02:33

          Menantikan season “walking ded” hahaha… Andai dapet akses ke helipadnya

          Reply
  2. benny says:
    20/05/2016 at 02:44

    Rame juga …

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Mengenai Robby Sunata
May 2016
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
« Mar   Aug »
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • October 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2023
  • November 2022
  • August 2022
  • May 2022
  • March 2022
  • February 2022
  • January 2022
  • December 2021
  • August 2021
  • July 2021
  • February 2021
  • January 2021
  • December 2020
  • November 2020
  • July 2020
  • June 2020
  • May 2020
  • April 2020
  • March 2020
  • February 2020
  • May 2017
  • March 2017
  • January 2017
  • November 2016
  • October 2016
  • September 2016
  • August 2016
  • May 2016
  • March 2016
  • January 2016
  • November 2014
  • April 2014
  • March 2014
  • January 2014
  • May 2010
©2026 Kisah Kecil dari Palembang | WordPress Theme by Superbthemes.com